Sabtu, 13 Agustus 2011

Refleksi Kehidupan Salafushaleh Dalam Berinteraksi dengan Ayat-ayat al-Quran


Jangan lupa membagikan artikel ini setelah membacanya

Sungguh generasi pendahulu kita dengan sadar telah menikmati sensasi ayat-ayat al-Quran dan sunah Nabi.  Mereka mengamalkannya dalam praktek keseharian. Kehidupan di luar masjid tidak membuat mereka tidak menjalankannya. Mereka tidak memisahkan dan menjadikan aktivitas kehidupan amaliah (duniawi) sebagai satu sisi dan agama pada sisi yang lain, tetapi keduanya saling melengkapi. Interaksi mereka dengan ayat-ayat qurâni dan sunah nawabi nampak dalam aktivitas gerak dan diam mereka.

Abdullah Ibn Umar respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa,
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)
Ketika mendapatkan sesuatu yang amat disukainya pada hartanya, serta-merta ia jadikan harta itu sebagai taqarub (pendekat) kepada Allah subhanahu wa ta'alaa.
Budak-budak Ibnu Umar menyadari hal itu. Hingga salah seorang di antara mereka ada yang sengaja berdiam diri di masjid. Ketika Ibnu Umar melihatnya dalam keadaan demikian, diapun memerdekakan budak itu. Atas sikapnya itu, sebagian orang ada yang berkata kepadanya,
“Budak-budak itu hanya menipumu!”
Ibnu Umar menjawab:
“Siapa yang menipu kami untuk Allah, kami akan membiarkan seolah kami tertipu untuknya.” .
Ibnu Umar memiliki budak perempuan yang begitu disayanginya. Tetapi diapun memerdekakan budak itu dan menikahkannya dengan Nâfi’, budak yang juga telah dimerdekakannya sebelumnya.
Ibnu Umar berkata:
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)
Pernah Ibnu Umar membeli unta jantan dan merasa takjub ketika menungganginya. Diapun berkata kepada ajudannya:
“Wahai Nâfi’, jadikan unta ini sebagai sedekah.”
Pada kesempatan yang lain, Ibnu Ja’far (seorang saudagar) ingin membeli Nafi’, budak lelaki Ibnu Umar sebesar 10.000 dirham atau lebih dari itu. Ibnu Umar berkata:
“Aku telah memerdekakannya, dia bebas untuk Allah.”
Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli seorang budak dengan harga 40.000 dirham kemudian dimerdekakannya. Setelah dimerdekakan budak itupun berkata:
“Wahai tuanku, engkau telah memerdekakanku, maka berilah aku sesuatu agar aku bisa hidup.”
Ibnu Umar pun memberinya 40.000 dirham.
Pada waktu yang lain Ibnu Umar membeli 5 orang budak. Manakala dia sedang shalat kelima budak itu turut shalat di belakangnya. Ibnu Umarpun bertanya kepada mereka:
“Untuk siapa kalian melakukan shalat ini?”
“Untuk Allah!” Jawab mereka.
Mendengar jawaban mereka Ibnu Umar berkata:
“Kalian merdeka untuk Dia yang kalian shalat kepada-Nya.” Ibnu Umarpun memerdekakan mereka semua.
[Al-bidayah wa an-Nihayah 6/9]
Ayat:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS.Ali Imran:92)
Jika dipraktekkan di era kita sekarang ini, maka tidak akan lagi ditemukan seorang miskin atau terlantar pun di tengah masyarakat muslim, walau hanya 10% saja dari mereka yang mempraktekkannya.
*****
Ali Ibn al-Husain respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.Ali Imran:134)
Abdurrazzak berkata,
“Budak perempuan Ali Ibn al-Husain menuangkan air kepada Ali untuk berwudhu, tetapi bejana yang dipegangnya terlepas dari tangannya sehingga mengenai wajah Ali. Diapun mendongak (menatap tajam) kepada budaknya itu. Maka berkatalah budak perempuan itu menyitir ayat dalam surat Ali Imran:
“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:
“…dan orang-orang yang menahan amarahnya..”
“Aku telah menahan amarahku.” Jawab Ali.
“...dan memaafkan (kesalahan) orang...”
lanjut budak perempuan itu.
“Semoga Allah mengampunimu.” Jawab Ali.
“...Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan...”
Mengakhiri ayat 134 dari surat Ali Imran yang dibacanya.
“Kini engkau aku merdekakan semata karena Allah.” Ungkap Ali.
[Al-Mushannif Abdurrazzaq no.8317]

* * * * *
Umar Ibn Abdul Aziz respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah yang telah menurunkan Al kitab (Al-Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (QS.al-A’râf: 196)
Dikatakan kepada Umar Ibn Abdul Aziz[1] ketika berada dalam pembaringan menjelang kematiannya:
“Mereka anak-anakmu  (yang berjumlah 12), tidakkah engkau berwasiat kepada mereka dengan sesuatu, sesungguhnya mereka itu fakir.”
Umar menjawab:
“Sesungguhnya wali (pengayom)ku adalah Allah yang telah menurunkan al-kitab (al-Quran) dan dia pula yang akan mengayomi orang-orang yang saleh. Demi Allah, aku tidak akan memberikan hak orang lain kepada mereka. Mereka ada di antara dua keadaan orang; orang yang saleh, maka Allah akan menjadi pengayomnya, atau bukan orang saleh, maka aku tidak akan membantu kefasikan (perbuatan dosanya) dengan memberinya harta. Aku sendiri tidak peduli pada posisi mana pengakhiran mereka. Aku tidak akan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang dapat digunakan bermaksiat kepada Allah sehingga aku menjadi sekutunya setelah kematianku.”
Kemudian dia memanggil anak-anaknya untuk mengucapkan perpisahan seraya berpesan dengan apa yang telah menjadi prinsipnya itu, lalu berkata:
“Pergilah kalian semua, Allah akan menjaga kalian dan akan memperbaiki keadaan kalian setelah ini. ”  Pesan Umar.
Orang-orang berkata (setelah kematian Umar):
“Kami mendapati di antara anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz ada yang membawa 80 ekor kuda untuk digunakan berperang dijalan Allah. Sedangkan di antara putra Sulaiman Ibn Abdul Mâlik[2], meskipun banyak harta yang ditinggalkan untuk anak-anaknya (tapi pada akhirnya) datang dan meminta kepada anak-anak Umar Ibn Abdul Aziz. Yang demikian karena Umar mewakilkan anaknya kepada Allah U sedangkan Sulaiman dan penguasa lainnya menggantungkan anak-anak mereka pada apa yang diberikan, sehingga habis dan lenyaplah harta itu untuk memuaskan hawa nafsu anak-anak mereka.
[kitab: Al-Bidayah wa an-Nihaya 9/218.]
Dengan satu ayat Umar Ibn Abdul Aziz mengejawantahkan ayat tersebut dalam urusan hak anak-anaknya sehingga Allah jaga mereka dengan izin-Nya. Bahkan bukan hanya itu, Allah gabungkan untuk mereka kebaikan dunia dan akhirat.
Bukankah sudah seharusnya kaum muslimin menyadari betapa pentingnya mendidik anak keturunan yang sesuai dengan sudut pandang Islam.
* * * * *
Penyair pun memiliki bagian dalam memahami al-Quran dan sunah serta bagaimana mereka berinteraksi dengan nas-nas keduanya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Farzadaq, seorang penyair respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya: 79)
Dikabarkan bahwa al-Walid[3] mengirim utusan kepada raja Romawi meminta dikirimi ahli-ahli bangunan, baik ahli marmer dan yang lainnya, untuk membantu membuatkan bangunan Masjid Umawi di Damaskus sesuai keinginannya. Maka raja Romawi pun mengirim banyak ahli bangunan sekitar 200 tukang seraya menulis surat kepadanya, yang isinya:
“Jika ayahmu tahu apa yang kamu lakukan dan membiarkan saja sungguh itu adalah cela bagimu. Jika dia tidak memahaminya sedang engkau memahaminya, sungguh itu adalah cela baginya.”
Ketika kiriman raja Romawi sampai kepada Walid, dia ingin membalas surat itu. Maka berkumpullah orang-orang untuk membahasnya. Di antara mereka ada Farzadaq, seorang penyair, dia berkata:
“Aku yang akan menjawabnya dari kitabullah, wahai Amirul mukminin."
“Apa itu?” Tanya Walid
“Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman:
“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu.” (QS.al-Anbiya:79)
Sulaiman adalah putra Daud. Allah memberinya kefahaman apa yang tidak diberikan kepada ayahnya.” Jelas Farzadaq.
Jawaban Farzadaq membuat Walid salut. Maka Walidpun mengirim jawaban itu kepada Raja Romawi. Farzadak mengatakan hal itu dalam syairnya:
Aku pisahkan antara Nasrani di gereja-gereja mereka
Antara ahli ibadah, tukang sihir dan ternak
Mereka semua jika sembahyang wajahnya berbeda-beda
Ada yang sujud kepada Allah atau kepada patung
Bagaimana mungkin berkumpul pemukul lonceng ahli salib
Dengan para pembaca al-Quran yang tidak tidur
Aku pahami masalahannya seperti pemahaman Daud dan Sulaiman
Yang mengadili orang-orang pada kebun dan ternak
....
[al-Bidayah wa an-Nihayah 9/153]
* * * * *
Abdul Malik bin Marwan, yang telah banyak menaklukkan negeri-negeri  di berbagai penjuru dan menjadikannya daulah islamiah pada zamannya, ketika terbaring menyongsong kematiannya respek dengan firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya.” (QS. Al-An’âm: 94)
Abu Mashar berkata:
“Ditanyakan kepada Abdul Malik di saat sakit menjelang kematiannya:
“Apa yang engkau rasakan?”
“Aku mendapatkan diriku sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'alaa firmankan:
“Dan Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa'at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah)." (QS. Al-An’âm: 94)
“Seandainya aku seorang tukang cuci yang hidup dari hasil tanganku sendiri.” Sesalnya.
Ketika berita menjelang kematian Abdul Malik tersebut sampai kepada Sa’id Ibn al-Musayib[4], dia berkata:
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan pada akhir kematiannya mendekat kepada kami (kepada akhirat), bukan kita yang mendekat kepadanya (kepada dunia).”
[Lihat: al-Kamil fi at-Tarikh, peristiwa tahun 86H jilid 3]
* * * * *
Kepada para hakim dari umat ini –kebanyakan mereka menjauhi kebenaran dan berpaling- aku beritakan apa yang dilakukan oleh al-Mahdi, khalifah al-Abâsi yang berhukum dengan adil dan respek dengan ayat al-Quran yang mulia.
Al-Khatib meriwayatkan:
"Seorang lelaki meminta bantuan kepada al-Mahdi untuk mengadili dirinya dan lawan sengketanya. Al-Mahdipun mengadili mereka dengan adil. Sehingga lelaki itupun memuji dalam bait-bait syair:
Engkau mengadilinya dan membuat keputusan
Seperti terang benderangnya bulan purnama
Tidak menerima suap dalam pengadilan hukummu
Tidak peduli kekecewaan mereka yang merugi
Al-Mahdi berkata mengomentari bait-bait syair lelaki itu:
“Adapun engkau wahai kisanak, semoga Allah menjadikan baik ucapanmu dan aku tidak terlena dengan apa yang engkau katakan. Adapun aku, tidaklah aku duduk di majelisku ini hingga membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan.” (QS.al-Anbiya:47)
Orang-orang yang ada di majelis menangis. Belum pernah terlihat orang menangis lebih banyak dari hari itu sebelumnya.
[Lihat kitab: al-Kâmil fi at-Târikh, kejadian tahun 256H jilid 4]
* * * * *
Maimun bin Mahrân respek dengan ayat dari kitab Allah subhanahu wa ta'alaa.
Umar, putra Maimun berkata:
“Aku keluar bersama ayahku menyusuri bangunan dan jalan-jalan Bashroh. Ketika melewati parit, syaikh (ayahku) tidak dapat melampauinya, sehingga akupun merebahkan tubuhku agar beliau dapat melintas menaikiku. Diapun melintas menaiki punggungku, setelah itu akupun berdiri dan memegang tangannya hingga tibalah kami di rumah al-Hasan. Akupun mengetuk pintu rumah al-Hasan. Tidak lama berselang keluarlah seorang budak wanita dan berkata:
“Siapa yang datang?”
“Ini adalah Maimun Ibn Mahran, ingin bertemu dengan al-Hasan.” Jawabku.
“Apakah Maimun juru tulis (sekretaris) Umar Ibn Abdul Aziz?!” tanyanya lagi.
“Ya.” Jawabku lagi.
“Alangkah menyedihkannya, engkau masih hidup pada zaman yang penuh dengan keburukan sekarang ini.”  Ujar budak wanita itu.
Syaikh menangis mendengarnya, hingga al-Hasanpun keluar karena mendengar tangisan itu, lalu mereka saling berangkulan, kemudian masuk. Maimun bekata:
“Wahai Abu Sa’id[5], sungguh aku galau dengan kerasnya hatiku, karenanya lembutkanlah ia.”
Al-Hasanpun membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa:
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun kemudian datang kepada mereka azab yang telah diancamkan kepada mereka. Niscaya tidak berguna bagi mereka apa yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ’: 205-207)
Mendengar itu Maimun langsung jatuh pingsan. Aku melihat kedua kakinya saling bergesekan seperti biri-biri yang disembelih. Keadaan seperti itu berlangsung cukup lama. Kemudian datanglah budak perempuan tadi dan berkata:
“Kalian telah membuat al-Hasan lelah. Tinggalkanlah dia agar beristirahat.”
Akupun memegang tangan ayahku lalu keluar. Aku katakan kepada ayahku:
“Wahai ayah, apakah dia al-Hasan.”
“Ya.” Jawab ayahku.
“Aku mengira ia lebih hebat dari ini[6].”
Ayahku menepuk dadaku seraya berkata:
“Wahai anakku, telah dibacakan kepada kita ayat yang jika engkau memahaminya dengan hatimu sungguh engkau akan merasakan adanya kepedihan.”
[Kitab al-Bidayah wa an-Nihayah 9/327]
* * * * *
Al-Hajjaj Ibn Yusuf ats-Tsaqofi adalah sosok yang zalim dan bengis. Hanya saja dia begitu sensitif dengan ayat-ayat al-Quran, respek dan mendahulukan firman Allah U dibanding perkataan yang lain.
Al-Haitsam Ibn Adi berkata:
“Datang seorang lelaki kepada al-Hajjaj dan berkata:
“Sesungguhnya saudara laki-lakiku keluar bersama Ibnu al-Asy’ab[7], sehingga namaku dihapus dari daftar, tidak mendapat bantuan dan tempat tinggalku digusur.”
Al-Hajjaj berkata:
“Tidakkah engkau mendengar ungkapan syair:
Harapanmu kepada orang yang menyakitimu
Tak ubahnya menjadikan kesehatan yang berkah menjadi kusta
Bisa jadi seorang itu di hukum karena kesalahan orang dekatnya
Sedangkan pelakunya selamat dari dosa yang dilakukannya

Lelaki itupun menjawab:
"Wahai amir, sungguh aku mendengar firman Allah I tidak seperti syair yang telah engkau bacakan tadi, dan firman Allah I lebih benar.”
"Apa yang Allah firmankan?" Tanya al-Hajjaj.
Lelaki itu membaca firman Allah subhanahu wa ta'alaa dalam surat Yusuf:
"Mereka berkata: "Wahai Al-Aziz, sesungguhnya ia mempunyai ayah yang sudah lanjut usianya, lantaran itu ambillah salah seorang di antara kami sebagai gantinya, sesungguhnya kami melihat kamu termasuk orang-orang yang berbuat baik". Yusuf berkata: "Aku mohon perlindungan kepada Allah daripada menahan seorang, kecuali orang yang kami ketemukan harta benda kami padanya, jika kami berbuat demikian, Maka benar-benarlah kami orang-orang yang zalim". (QS. Yusuf: 78-79)
Al-Hajjaj langsung merespons firman Allah itu dan berkata kepada bawahannya:
"Wahai ghulam, masukkan kembali namanya ke dalam daftar, bangun kembali tempat tinggalnya dan beri dia apa yang berhak diterimanya. Panggil juru penyeru untuk menyerukan bahwa Allah-lah yang benar dan penyair itu salah."
[ Al-Bidayah wa An-Nihayah  9/130]
* * * * *
Akan tetapi respons yang menjurus pada kebinasaan jiwa adalah tertolak. Sekalipun dalam catatan sejarah kita ada orang-orang yang begitu sensitif dan merespons ayat-ayat al-Quran sehingga menjadi penutup kehidupan mereka. Yang demikian itu menyelisihi sunah Nabi sallaahu alayhi wassalam.
Zurarah Ibn Aufa Ibn Hajib al-Âmiri adalah hakim di Bashroh. Dia termasuk ulama besar Bashrah. Kisah mengenai riwayat dirinya banyak sekali. Suatu saat ketika mengimami shalat subuh dia membaca surat al-Mudatsir. Ketika sampai kepada ayat:
"Apabila ditiup sangkakala.." (QS.al-Mudatsir: 8 )
Seketika itu pula ia menemui ajalnya.
[Kitab: Al-'Ibar Fi khabarin man ghabar (Pelajaran mengenai berita bagi yang tidak tahu)]
* * * * *
Ya'kub al-Kûfi seorang yang zuhud (sederhana) lagi ahli ibadah juga meninggal ketika mendengarkan ayat al-Quran.
Ali Ibn al-Muwaffaq berkata bahwa Manshur Ibn Ammar berkata:
"Pada suatu malam aku keluar (ke masjid) yang aku kira waktu subuh sudah masuk, tapi ternyata masih malam. Akupun bergegas duduk di pintu kecil masjid. Ternyata ada seorang pemuda yang tengah menangis sambil berujar:
"Demi kemuliaan dan keagungan-Mu, bukan maksud memaksiati-Mu ingin menyelisihi-Mu, akan tetapi jiwaku memaksaku, kesusahanku mengalahkanku dan tabir dosaku yang Kau tutupi telah menipuku. Sekarang siapa yang akan menyelamatkanku dari azab-Mu. Tali siapa yang dapat menghubungkanku kepada-Mu jika Engkau telah memutus tali penghubung itu dariku. Oh, sesal atas apa yang telah berlalu dari hari-hari memaksiati Tuhan-ku. Celaka aku, sudah berapa kali aku bertobat dan berapa kali pula aku mengulanginya. Kini telah tiba saatnya bagiku untuk malu kepada Tuhan-ku subhanahu wa ta'alaa."
Mendengar ujaran pemuda itu spontan Manshur berkata:
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang.
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS.at-Tahrim: 6)
Selesai itu aku mendengar pekikan dan kepanikan yang sangat. Tapi kemudian aku meniggalkan tempat itu untuk satu keperluan. Ketika kembali dan melintasi pintu itu aku lihat sesosok jenazah tergolek di sana. Ketika aku tanyakan jenazah siapakah itu, ternyata pemuda tadi telah wafat setelah mendengar ayat yang aku bacakan."
[kitab Al-Bidâyah wa an-Nihâyah 10/185]
* * * * *
Nabi r sendiri ketika mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya, beliau tersentuh dan respek sehingga keluarlah air matanya dan menangis, tetapi tidak lebih dari itu, selain juga semakin bertambah takut, khawatir, harap dan tunduknya kepada Tuhan-nya Y. Adapun peristiwa-peristiwa ganjil yang terjadi dalam catatan sejarah umat ini, di mana mereka meninggal setelah mendengar ayat-ayat al-Quran adalah menyelisihi manhajul islam (metodologi islam).
* * * * *
Sa'id Ibn Abi Waqqôs sang penakluk negeri-negeri, yang di antaranya adalah kekaisaran Faris[8]. Ketika mereka berhasil merebut istana, dia menjadikan majelis istana sebagai mushola (tempat shalat). Ketika memasukinya ia membaca firman Allah:
"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh."
(QS. Ad-Dukhôn: 25-29)
Aku katakan kepada hakim-hakim kaum muslimin; kapan kita memasuk Paris, Wina, Wasingthon dan London seraya mengatakan:
"Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan. Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah. Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya. Demikianlah. dan Kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh." (QS. Ad-Dukhôn: 25-29)
Mereka adalah generasi yang menaklukkan dunia dengan segala isinya. Dahulu al-Quran dan sunah mengalir dalam darah mereka, yang bercampur dengan daging dan lemak. Adapun sekarang, engkau tidak mendapati seorang hakim atau terpidana pun –selain yang dirahmati Allah- paham terhadap kitab Allah (al-Quran) atau respek dengan suber hukum itu dalam praktek kehidupan mereka. Innalillah wa inna ilaihi rojiun.
Aku meminta kepada Allah yang Mahaagung, Tuhan Arsy yang agung agar mengutus kepada kita manusia-manusia teladan seperti mereka, yang akan mengembalikan kemuliaan yang telah kita abaikan, dan memudahkan tegaknya daulah islamiah di muka bumi.

Wallahu A'lam.
Imâd Hasan Abu al-‘Ainain

[1] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 99H -101H-pent.
[2] Khalifah Umawiah (pemimpin pemerintahahan Islam) pada tahun 96H-99H -pent.
[3] Al-Walid putra dari Abdul Malik Ibn Marwan, salah satu khalifah Umawiah pada tahun 73H-86H.
[4] Salah seorang ulama besar pada masanya.
[5] Kunyah atau panggilan dari al-Hasan, ulama besar di masa itu dari generasi Atba At-Tabi’in.
[6] Maksudnya bahwa sebagai seorang ulama al-Hasan tidak banyak bicara saat kunjungan mereka, tetapi hanya membacakan beberapa ayat al-Quran saja.
[7] Yang dianggap berseberangan dengan penguasa -pent.
[8] Negara Iran saat ini.

Tauhid




Tauhid adalah pecahan dari kata wahid. Dikatakan Wahhid Syaia artinya jadikan dan ikatlah ia menjadi satu. Sedang Tauhid (mengesakan) Allah adalah dengan meyakini akan keesaan Allah dalam Rububiyah (penciptaan, Pemeliharaan, Pemilikan), nama-nama dan sifat-Nya serta meyakini bahwa Allah adalah Rabb yang merajai yang berhak untuk diibadahi. Maka tauhid adalah mengesakan Allah dengan segala apa yang menjadi spesifik (kekhususan) Nya dari ibadah qauliyah maupun fi’liyah. Ia merupakan dasar Islam. Dari dasar tersebut terpancar seluruh aturan, hukum, perintah dan larangan-Nya.
Pembagian Tauhid
1- Tauhid Rububiyah
Yaitu meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Pencipta hamba dan Pemberi rizki mereka, yang Menghidupkan dan Mematikan mereka. Atau kita katakan : Mengesakan Allah dengan perbuatan-Nya, seperti meyakini bahwa Allah adalah Al-Kholiq (Maha Pencipta) dan Ar Raziq (Maha Pemberi rizki).
Keyakinan ini juga diakui kaum musyrikin lampau serta seluruh  pemeluk agama dari yahudi, nashoro, shabiin (penyembah bintang) dan majusi. Tidak ada yang mengingkari tauhid ini selain kaum Dahriyah yang lampau (di zaman kita, Kaum atheis)
Dalil Tauhid Rububiyah:
Dikatakan kepada mereka yang mengingkari Rabb Yang Maha Mulia: Bahwa siapa yang memiliki akal yang sehat tidak akan menerima suatu bekas tanpa ada yang meninggalkannya, perbuatan tanpa ada yang berbuat, ciptaan tanpa ada yang menciptakan.
Diantara perkara yang tidak diperselisihkan apabila anda melihat sebuah jarum anda yakin bahwa jarum tersebut ada pembuatnya. Maka bagaimana halnya dengan alam yang agung ini yang mengherankan akal dan membuat bingung pikiran telah ada tanpa ada yang mengadakan?! Teratur tanpa ada yang mengatur. Semua apa yang ada di dalamnya dari bintang-bintang, awan, kilat, petir, daratan dan lautan, malam dan siang, gelap dan terang, pohon-pohon dan bunga-bunga, jin dan manusia hingga berbagai macam yang tidak bisa lagi dihitung oleh bilangan telah ada tanpa ada yang mengadakan yang mengeluarkannya dari sebelumnya tidak ada! Ya  Allah ini tidak dikatakan orang yang masih memiliki sedikit akal dan seberat atom pemahaman.
Intinya, bukti-bukti atas rububiyah Allah tidak bisa dibilang. Maha benar Allah tatkala berfirman:
}أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ{ (35) سورة الطور
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu ataukah mereka sendiri yang menciptakan (Ath Thur :35)
Dan Firman-Nya :
}اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ{(62) سورة الزمر
Allah Pencipta segala sesuatu sedang Dia Maha Mengurus segala sesuatu (Az Zumar : 62)
Diantara dali-dalil akal apa yang dikisahkan dari Imam Abi Hanifah semoga Allah merahmatinya: Sesungguhnya ada suatu kaum ahli kalam yang menginginkan pembahasan dengannya dalam rangka menetapkan tauhid rububiyah. Maka Abu Hanifah berkata kepada  mereka: sebelum kita membicarakan tentang persoalan ini beritahukan kepadaku tentang suatu bahtera di lautan dimana bahtera itu pergi memenuhi makanan, barang-barang dan yang lain dengan sendiri lalu berlabuh dengan sendiri dan menurunkan barang-barang dan kembali. Semua itu tanpa ada seorangpun yang mengatur?! Mereka lalu mengatakan : ini suatu yang mustahi dan tidak akan mungkin terjadi selamanya! Maka Abu Hanifah berkata kepada mereka: Jika hal ini mustahil terjadi pada suatu bahtera lantas bagaimana halnya dengan alam semesta ini seluruhnya, yang atas maupun yang bawah!! (kisah ini juga diceritakan dari selain Abu Hanifah)
Dalil pengakuan kaum musyrikin terhadap tauhid rububiyah:
Allah Ta’ala berfirman:
}وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ{(25) سورة لقمان
Jika kalian tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi niscaya mereka menyatakan Allah. Katakanlah segala puji bagi Allah akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (Luqman:25)
Firman Allah Ta’ala:
}قُلْ مَن يَرْزُقُكُم مِّنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ أَمَّن يَمْلِكُ السَّمْعَ والأَبْصَارَ وَمَن يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ الأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللّهُ فَقُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ(31)فَذَلِكُمُ اللّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلاَّ الضَّلاَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ{(32) سورة يونس
Katakanlah siapakah yang melimpahkan rizki kepada kalian dari langit dan bumi atau siapakah yang memiliki pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan. Niscaya mereka mengatakan Allah. Maka katakanlah tidakkah kalian mau bertaqwa. Itulah Allah Rabb kalian yang hak. Maka tidaklah setelah hak itu melainkan kesesatan. Maka bagaimana kalian dipalingkan (Yunus:31-32)
}وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ{(9) سورة الزخرف
Firman Allah Ta’ala: Jika kalian tanyakan kepada mereka siapakah gerangan yang telah meanciptakan langit dan bumi niscaya mereka menyatakan semua itu diciptakan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui (Az Zukhruf:9)
Catatan:
Tauhid Rububiyah belum bisa memasukkan manusia ke dalam agama Islam melainkan jika menyertakan pula tauhid uluhiyah.
2- Tauhid Uluhiyah
Tauhid ini disebut pula tauhid ibadah. Yaitu mengesakan Allah dengan ibadah. Sebab Dialah yang berhak untuk diibadahi bukan selain-Nya sekalipun tinggi derajat dan kedudukannya.
Ia mearupakan tauhid yang dibawa para Rasul ke umat-umat mereka. Sebab para rasul –‘alaihissalam- datang dengan menetapkan tauhid rububiyah yang diyakini umat mereka lalu menyeru mereka kepada tauhid uluhiyah sebagaimana yang diberitakan Allah tentang mereka dalam kitab-Nya yang mulia.
Allah Ta’ala berfirman mengisahkan Nuh as:
}وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ إِنِّي لَكُمْ نَذِيرٌ مُّبِينٌ (25) أَن لاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ اللّهَ إِنِّيَ أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ { (26) سورة هود
Dan telah Kami utus Nuh kepada kaumnya (seraya mengatakan) sesungguhnya aku pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian meanyembah melainkan kepada Allah sesungguhnya aku takut atas kalian akan azab pada hari yang sangat pedih (Hud : 25-26)
Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Musa as ketika berdebat dengan Fir’aun:
}قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ (23) قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إن كُنتُم مُّوقِنِينَ { سورة الشعراء
Firaun berkata siapakah Rabb alam semesta? Musa berkata: Rabb langit dan bumi serta antara keduanya jika kalian kaum yang yakin (Asy Syuara:23-24)
Allah Ta’ala berfirman mengisahkan tentang Isa as :
}إِنَّ اللّهَ رَبِّي وَرَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ{ (51) سورة آل عمران
Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rab kalian maka sembahlah Dia oleh kalian. Inilah jalan yang lurus. (Ali Imron : 51)
Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW untuk menyatakan kepada ahli kitab:
}قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْاْ إِلَى كَلَمَةٍ سَوَاء بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاَّ اللّهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضاً أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ فَإِن تَوَلَّوْاْ فَقُولُواْ اشْهَدُواْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ{(64) سورة آل عمران
Katakanlah wahai ahli kitab kemarilah kepada suatu kata sepakat antara kami dengan kalian hendaklah kita tidak menyembah melainkan kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya dan sebagian kita tidak menjadikan sebagian lain sebagai sesembahan-sesembahan yang ditaati selain Allah. Jika kalian berpaling maka katakanlah saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri (Ali Imron :64)
Allah Ta’ala berfirman menyeru semua manusia:
}يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ{(21) سورة البقرة
Wahai manusia sembahlah oleh kalian Rabb kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian supaya kalian bertaqwa (Al Baqarah:21)
Intinya: Seluruh rasul diutus dalam rangka tauhid uluhiyah dan menyeru kaumnya kepada mengesakan Allah dengan ibadah dan menjauhi menyembah taghut dan berhala. Sebagaimana Allah berfirman:
}وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ { (36) سورة النحل
Dan telah Kami utus  pada setiap umat seorang rasul (yang menyeru ) sembahlah oleh kalian Allah dan jauhilah taghut (An nahl:36)
Dan telah diperdengarkan dakwah/seruan rasul kepada kaumnya.
Maka pertama kali yang mengetuk pendengaran kaumnya: Dia berkata:
}قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلاَ تَتَّقُون{(65) سورة الأعراف
Wahai kaumku sembahlah oleh kalian Allah tidak ada bagi kalian Ilah selain-Nya. Tidakkah kalian mau bertaqwa (Al A’raf:65)
Tafsir Ibadah

Ibadah secara bahasa maknanya: merendakan diri dan tunduk patuh. Dikatakan thoriq mu’abbad yaitu jalan rendah/mulus (biasa dilewati).
Secara syar’i, makna ibadah  adalah sebagaimana yang dikatakan syaikhul Islam yaitu taat kepada Allah dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan berdasarkan sunnah rasul. Beliau juga berkata: Ibadah merupakan sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah berupa amal, perkataan dan perbuatan yang lahir dan batin. Seorang muslim haruslah mengesakan Rabbnya dengan seluruh macam ibadah dengan mengikhlaskan semata-mata karena Allah serta melaksanakannya sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw baik perkataan dan perbuatan.
Ibadah mencakup macam-macam berikut:
Ketahuilah bahwa ibadah mencakup sholat, thowaf, haji, puasa, nadzar, iktikaf, menyembelih kurban, sujud, rukuk, takut, harap-harap cemas, khosyah (takut disertai pengagungan) tawakal, minta pertolongan, berharap (roja’) serta berbagai macam ibadah yang lain yang disyariatkan Allah dalam Al Qur’an yang mulia atau disyariatkan oleh Rasulullah saw dengan sunnah sahihah baik berbentuk perkataan dan perbuatan. Maka barangsiapa yang memalingkan sedikitpun dari ibadah tersebut kepada selain Allah ia telah berbuat syirik. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
}وَمَن يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُون  { (117) سورة المؤمنون
Dan barangsiapa menyeru Ilah lain bersama Allah yang tidak ia punyai buktinya yang terang tentangnya maka sesungguhnya perhitungannya menurut Alah. Sesungguhnya tidak akan beruntung kaum kafir itu (Al Mukminun:117)
dan firman-Nya:
}وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا  {  (18) سورة الجن
Dan sesungguhnya masjid-masjid itu milik Allah maka janganlah kalian seru bersama Allah seorangpun (Jin:18)
seseorang disini mencakup semua makhluk baik itu rasul, malaikat atau orang saleh.
Sebab Kesyirikan Kultus terhadap Orang-orang Sholeh

Dari sini kita ketahui bahwa kesyirikan hanyalah muncul pada keturunan Adam disebabkan kultus terhadap orang-orang sholeh.
Makna kultus: Keterlaluan dalam mengagungkan dengan ucapan maupun keyakinan. Oleh karena ini Allah berfirman:
}يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرُسُلِهِ وَلاَ تَقُولُواْ ثَلاَثَةٌ انتَهُواْ خَيْرًا لَّكُمْ إِنَّمَا اللّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَات وَمَا فِي الأَرْضِ وَكَفَى بِاللّهِ وَكِيلاً{(171) سورة النساء
Wahai ahli kitab janganlah kalian melampui batas dalam agama kalian dan janganlah kalian menyatakan atas Allah melainkan yang hak. Sesungguhnya al Masih Isa bin Maryam hanyalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang ditiupkan kepada Maryam serta ruh dari-Nya (An Nisa:171)
Telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Aisyah berkata: Tatkala ajal turun kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam , melemparkan bajunya kewajahnya
Beliau bersabda dengan keadaan seperti itu :
[لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدَ والنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ يُحَذِّرِ مَا صَنَعُوا وَلَوْلاَ ذَلِكَ أُبْرِزَ قَبْرُهُ غَيْرَ أَنَّهُ خَشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِداً] أخرجه الشيخان
Allah telah melaknat orang-orang yahudi dan nasrani, mereka telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid “, Beliau mengingatkan akan apa yang mereka lakukan, kalaulah bukan karena itu dinampakkanlah kuburan nya, namun beliau khawatir akan dijadikan masjid. ( dikeluarkan oleh Syaikhon )
Dan terjadi hal-hal yang berlebihan dari mereka ( Ghuluw ) dalam syair-syair, sampai mereka memperbolehkan istighosah (meminta pertolongan) kepada Rasul dan seluruh orang-orang yang sholeh disetiap sesuatu yang mereka meminta pertolongan kepada Allah, dan mereka menisbatkan padanya ilmu ghaib,  sampai sebagaian orang yang berlebihan itu mengatakan : “ Rasulullah tidak wafat sampai beliau mengetahui apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi dan mereka menyalahi Al-Qur’an yang sudah sangat jelas.
} وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ {الأنعام 59
Dan disisi-Nya kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya selain Dia”.  (Al-an’am 59)
dan Allah Berfirman :
} إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} {لقمان 34
Sesungguhnya di sisi Alloh saja Ilmu tentang terjadinya kiamat, Dialah yang menurunkan hujan, dan Dialah yang mengetahui apa-apa yang ada dalam rahim, tidak satu jiwapun yang mengetahui apa yang akan diusahakan besok hari dan tidaklah satu jiwa mengetahui di bumi mana dia akan mati sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui (QS Luqman : 34)
Allah Berfirman mengabarkan tentang Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam,
}قُل لاَّ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاء اللّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ{(188) سورة الأعراف
Katakanlah aku tidak memiliki untuk diriku manfa’at dan juga tidak (menolak) bahaya kecuali apa yang dikehendaki Alloh, kalau aku mengetahui yang ghoib niscaya saya bisa memperbanyak kebaikan dan tidak terkena bahaya tiada lain saya melainkan pemberi peringatan dan pemberi kabar gembira bagi kaum beriman (QS Al-A’raf : 188)
}قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ{ (65) سورة النمل
Katakanlah tidaklah ada yang mengetahui siapa-siapa yang berada di langit maupun di bumi kecuali Alloh dan tidaklah mereka sadar kapan akan dibangkitkan. (QS An-Naml : 65)
3- Tauhid Asma’ dan Sifat.

Tauhid Asma’ dan Sifat adalah : mengesakan Allah dengan Nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya yaitu dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan untuk Dzat-Nya, dari nama-nama dan sifat-sifat didalam kitab-Nya atau yang disampaikan melalui Rasul-Nya saw, dengan tidak mengubah (tahrif), atau meniadakan sama sekali (ta’thil), tidak mengandai-andaikan (takyif) dan tidak mengupamakan (tamtsil).

Dibawah ini disebutkan kaidah-kaidah tentang nama-nama dan sifat-sifat.

Kaidah pertama : Nama-nama dan sifat-sifat Allah yang baik (al-husna) semuanya sempurna. Firman Allah :
}لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلّهِ الْمَثَلُ الأَعْلَىَ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ {(60) سورة النحل
Bagi mereka mereka yang tidak beriman kepada hari akhir  perumpamaan yang buruk  dan bagi Allah perumpamaan yang tinggi  dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. An-Nahl 60)
}وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ{(180) سورة الأعراف
“ Dan bagi Allahlah nama-nama yang indah maka memohonlah kamu dengan menyebut nama-namanya. Dan tinggalkanlah orang orang yang menyimpang di dalam nama-nama Allah, mereka akan dibalas apa-apa yang mereka lakukan “.
(QS. Al-A’raf 180)
Kaidah kedua :  Nama-nama dan sifat Allah merupakan Tauqifiyah, yang sumbernya dari  Al-Qur’an dan Sunnah saja,  nama dan sifat itu tidak terbatas dengan bilangan tertentu bahkan nama dan sifat itu tidak diketahui kecuali sebagiannya saja Allah Berfirman :
}قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِاللّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ مَا لاَ تَعْلَمُونَ{(33) سورة الأعراف
Katakanlah tiada lain yang diharamkan Robku yang buruk-buruk baik apa-apa yang nampak dan yang tersembunyi dan perbuatan dosa, perbuatan yang durhaka, denga tidak yang sebenarnya dan engkau mensekutukan Allah dengan apa-apa yang menurunkan kekuasaan dan engkau mengatakan aatas Allah apa-apa yang kamu tidak mengetahui ilmunya”. (QS. Al-A’raf 33)
}وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً{سورة الإسراء
Janganlah kalian mengikuti apa-apa yang kamu tidak mengetahui ilmunya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati  semuanya itu bertanggung jawab atasnya “.   (QS. Al-Isra’ Ayat : 36)
Kaidah ketiga : tidak diperbolehkan menetapkan nama atau sifat bagi Allah dengan mengumpamakan. Berdasarkan Firman Allah :
}لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ{ (11) سورة الشورى
Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat “. (QS. Asy-Syura 11)
} فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ إِنَّ اللّهَ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ{(74) سورة النحل
Dan janganlah kalian membuat perumpamaan bagi Allah, sesunggunya Allah Maha Mengaetahui sedangkan kamu tidak mengetahui “. (QS. An-Nahl 74)
Sebagaimana tidak diperbolehkan juga meniadakan nama dan sifat bagi Allah yang ada dalam Al-Qur’an dan Sunnah karena hal itu menyekutukan Allah, juga tidak boleh meniadakan seluruh nama dan sifat-Nya yang mengharuskan mengubah nash-nash, atau mendustakannya dengan mengurangkan kesucian Allah atau menyerupakan dengan makhluk yang serba kurang (tidak sempurna).
Kaidah keempat : Makna-mana tentang nama dan sifat Allah sudah diketahui, sedangkan hakekatnya tidak diketahui dan tidak mengetahuinya selain Allah, Allah berfirman :
} وَلاَ يُحيْطونَ به علماً {
“ Dan ilmu mereka tidak meliputi “  (QS. Thaha 110)
Kaidah kelima : karena Allah menamakan Dzat-Nya dengan nama-nama yang digunakan oleh sebagaian dari makhluq-Nya demikian juga Allah memberikan sifat bagi Dzat-Nya dengan sifat-sifat yang sifat itu digunakan oleh sebagian makhluq-Nya seperti mendengar dan melihat. Hal ini  tidaklah Pendengaran Allah seperti pendengaran makhluq, juga Penglihatan Allah seperti penglihatan makhluq.
Hal-hal yang Membatalkan Keislaman
Sesungguhnya hal yang amat berbahaya dalam membatalkan Islam dan paling banyak tersebar ada sepuluh hal yaitu :
1-      Syirik dalam peribadatan pada Allah. Firman Allah :
}إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاء { (48) سورة النساء
Sesunggunya Allah tidak mengampuni syirik kepadanya dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya “ (QS. An-Nisa’ 48)
}إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ{      (72) سورة المائدة
Sesungguhnya siapa yang menyekutukan Allah maka sungguh Allah mengharamkan baginya Surga, dan tempat tinggalnya di neraka dan tidak ada penolong bagi orang-orang yang dholim “. (QS. Al-Maidah 72)
Dan termasuk hal itu adalah meminta pada orang yang sudah mati dan meminta pertolongan dengan mereka, bernadhar dan menyembelih korban bagi mereka.
2-      Siapa menjadikan antara dia dengan Allah perantara-perantara, kemudian berdo’a dan meminta syafa’at kepada mereka, dan bertawakal atas mereka, sungguh dia telah kufur menurut kesepakatan ulama,
3-      Siapa yang tidak mengkufurkan kaum musyrikin  atau ragu-ragu dalam kekufuran mereka atau membenarkan madzhab mereka, ia kufur.
4-      Siapa yang berkeyakinan ada petunjuk lain  yang lebih sempurna  dari petunjuknya Nabi saw, atau ada hukum yang lebih baik dari hukumnya Nabi, seperti orang-orang yang lebih mengutamakan thoghut dari pada hukumnya Nabi, sunguh dia telah kufur.
5-      Siapa yang benci sesuatu dari apa-apa yang dating dari Rasul saw, sekalipun dia mengamalkannya, sungguh dia telah kufur. Berdasarkan Firman Allah :
}ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ{ (9) سورة محمد
Hal itu karena mereka tidak suka terhadap apa yang diturunkan Allah, maka  terhapuslah amal-amal mereka :. (QS. Muhammad: 9)
6-      Siapa yang mempermainkan sesuatu dari agama yang dibawa Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, atau pahalanya atau siksaannya, sungguh ia telah kafir. Berdasarkan firman Allah :
}وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِؤُونَ(65)لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ {(66) سورة التوبة سورة التوبة
“ Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan main-main saja, katakanlah : “ Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasulnya kamu berolok-olok ?, Tidak usahlah kamu minta maaf, karena kamu kafir setelah beriman “. (QS. At-Taubah: 65-66)
7-  Sihir, dan yang termasuk didalamnya  sesuatu yang dijadikan orang benci atau mencintai seseorang, siapa yang melakukannya atau   rela dengannya, sungguh ia telah kufur dan dalilnya firman Allah subhanahu wa ta’ala,
}وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيْاطِينَ كَفَرُواْ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ { (102) سورة البقرة
Padahal Sulaiman itu tidak kufur (melakukan sihir), hanya syetan-syetan itulah yang kafir (mengerjakan sihir), mereka mengajarkan sihir pada manusia  apa-apa yang diturunkan pada dua Malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya  tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan : “ Sesungguhnya kami ini hanya cobaan bagimu, sebab itu  Janganlah kamu kafir “.  (QS. Al-Baqarah 102).
8-  Membantu kaum musyrikin dan memberikan pertolongan pada mereka atas kaum Muslimin. Hal ini  berdasarkan Firman Allah :
}يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ{ (51) سورة المائدة
Wahai Orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani sebagai wali (pemimpin, pelindung, teman akrab), sebagian mereka pemimpin sebagian yang lain. Barang siapa  diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin. Maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk pada orang-orang yang dhalim “. (QS. Al-Maidah 51).
7-      Siapa yang mengi’tiqadkan bahwa sebagian manusia boleh keluar dari syari’at Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam maka dia telah kufur. Berdasarkan firman Allah:
}وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ{ (85) سورة آل عمران
Barang siapa yang mencari Dien selain Islam maka tidak akan diterima, dan dia di Akherat kelak termasuk orang-orang yang merugi “. (QS. Ali-Imran 85.)
8-      Berpaling dari agama Allah, tidak mau belajar dan tidak mengamalkannya, dan dalilnya dari Firman Allah :
}وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ  {سورة السجدة : 22
Dan siapakah yang lebih dhalim dari pada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Robbnya, kemudian ia berpaling dari padanya ?, sesungguhnya Kami memberikan pembalasan terhadap orang-orang yang dhalim “.  (QS. As-Sajadah 22.)
Dan tidak berbeda antara orang yang melakukan ini dengan bermain-main, atau sungguh sungguh atau yang takut, kecuali orang yang dipaksa, berdasarkan Firman Allah :
}مَن كَفَرَ بِاللّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ{ (106) سورة النحل
Dan barang siapa kufur kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya adzab yang besar “.   (QS. An-Nahl 106).
Dan semua hal diatas merupakan hal-hal yang paling berbahaya dan paling banyak terjadi, maka selayaknya bagi seorang Muslim untuk mewaspadainya dan takut menimpa atas dirinya.
Kita berlindung pada Allah dari hal-hal yang mendatangkan murka Allah dan kepedihan adzab-Nya.

Makna Muhammad Rasulullah

Makna Muhammad Rasulullah

Yaitu beriman bahwa beliau diutus dari sisi Allah sehingga kita membenarkan apa yang Beliau kabarkan, menaati apa yang Beliau perintahkan, meninggalkan apa yang Beliau larang dan beribadah kepada Allah dengan apa yang Beliau syariatkan. Beliau adalah penutup para Nabi dan Risalahnya adalah menyeluruh untuk seluruh Jin dan Manusia.
Sesungguhnya menganggungkan perintah dan larangan Nabi saw serta konsisten dengan syariatnya merupakan ungkapan yang benar dari makna sebenarnya dari syahadat (kesaksian) ini. Hal ini semata-mata merupakan pelaksanaan perintah Allah Ta’ala yang telah mengutus beliau kepada seluruh manusia sebagai pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira serta penyeru kepada Allah dengan izin-Nya dan pelita yang menerangi.

Kewajiban kita terhadap Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam

1-      Membenarkan Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala Berfirman:
}وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى { سورة النجم  : 3
“ Tidaklah yang dia ucapkan itu menurut kemauan  hawa nafsunya”.  (An Najm: 3)
2-      Mengikutinya (ittiba’). Allah Ta’ala berfirman:
}  قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  {  (31) سورة آل عمران
Katakanlah jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang (Ali Imron: 31).
Allah berfirman:
}لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا{(21) سورة الأحزاب
“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasul itu suri tauladan yang baik bagi kalian” (Al Ahzab: 21).
Allah Ta’ala berfirman :
}قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ{(158) سورة الأعراف
Katakanlah wahai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan yang berhak disembah secara hak melainkan Dia yang menghidupkan dan yang mematikan maka bearimanlah kepada Allah dan utusan-Nya sebagai nabi yang umi (tidak membaca dan menulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya dan ikutilah ia supaya kalian mendapatkan petunjuk. (Al A’raf: 158)
3-      Wajib mencintai Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, Allah Ta’ala berfirman:
}قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ{(24) سورة التوبة
Katakanlah jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga, harta benda yang kalian kumpulkan, perniagaan yang kalian kawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang kalian senangi, lebih kalian cintai dari pada Allah, Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusa-Nya. Allah tidak memberikan petunjuk bagi kaum fasik” (At Taubah:24)
Nabi e bersabda:
[ لاَيُؤْمِنُ أحدُكمْ حتى أكونَ أَحبَّ إليه من والدِه ووَلَدِه والناس أجمعين ] رواه البخاري
Tidak akan sempurna iman salah seorang diantara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada ayahnya, anaknya dan manusia seluruhnya” (HR Bukhari)
4-      Beribadah kepada Allah dengan apa yang beliau syariatkan. Allah ta’ala berfirman :
}وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى { سورة النجم : 3
Tidaklah yang diucapkannya dari hawa nafsunya (An Najm :3)
Nabi e bersabda :

[من عَمِلَ عملاً ليسَ عليه أمرُنا فهوَ ردٌّ]

Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka ia tertolak (HR Muslim)
Allah ta’ala berfirman:
}مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللّهَ وَمَن تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا{(80) سورة النساء
Barang siapa menaati rasul berarti ia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling maka kami tidak meangutusmu sebagai penjaga mereka (An Nisa’:80)
5-      Menjauhkan diri menyakiti Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيِقُولُونَ {(61) سورة التوبة
Diantara mereka ada orang-orang yang menyakiti Nabi dan mengatakan….
Yang dimaksud menyakiti di sini adalah seluruh makna yang dikandung kata ini sama saja apakah bentuk menyakiti terhadap kepribadian beliau yang mulia atau apa yang beliau bawa  dari Rabbul Alamin, atau sunnah beliau, ahli bait beliau, istri-istri beliau atau para sahabat pilihan beliau.
6-      Bersholawat kepada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
}إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا{ (56) سورة الأحزاب
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah dan ucapkanlah salam atas beliau (Al Ahzab: 56)
[ عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ بِهَا عشراً ] رواه مسلم
Dari Abi Hurairah semoga Allah meridhoinya bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa bersholawat kepadaku sekali maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali (Shahih Muslim)
Sifat bersholawat kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam.
Berdasarkan hadits Ka’ab bin ‘Ajrah semoga Alloh meridhoinya;  Rasululloh ketika ditanya tentang sholawat kepada beliau, beliau menjawab :  Katakanlah :
اللهم صلّ على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد رواه البخاري
Ya Allah limpahkanlah sholawat atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana Engkau limpahkan sholawat atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha Agung. Ya Allah limpahkanlah berkah atas Muhammad dan atas keluarga Muhammad sebagaimana telah Engkau limpahkan berkah atas Ibrahim dan atas keluarga Ibrahim Sesungguhnya Engkau maha terpuji lagi maha Agung (Shahih Bukhari)

Panduan Tauhid Level -1

معنى وشروط لا إله إلا الله
Makna  dan syarat La Ilaha Illallah

La ilaaha illallah adalah kunci Surga akan tetapi tidak ada satu kuncipun melainkan ia mempunyai gerigi. Jika anda datang membawa kunci yang ada geriginya maka akan terbuka bagi anda. Namun jika tidak ada geriginya maka tidak terbuka bagi anda. Sedangkan gerigi kunci ini adalah syarat-syarat La Ilaaha Illallah berikut ini:
1- العلم Mengetahui maknanya, yaitu meniadakan sesembahan (sesuatu yang diibadahi) tanpa hak selain Allah dan menetapkan Allah semata yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfiman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُم {ْ(19) سورة محمد
Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mintakanlah ampun bagi dosamu dan dosa orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin wanita. Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggal kalian. (Muhammad : 19)
Artinya tidak ada yang diibadahi di langit dan di bumi secara hak selain Allah. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

[ مَنْ مَاَتَ وَهُوَ يعلمُ أَنَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ]

“ Barangsiapa mati sedang dia mengetahui bahwa tidak ada Ilah yang berhak di sembah selain Allah maka ia masuk surga (HR Muslim)
2-    اليقين المنافي للشك :  Yakin yang meniadakan keraguan. Yaitu hati meyakini akan kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ  {  (15) سورة الحجرات
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan bejihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujurat: 15).

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[أشهدُ أنْ لا َإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنيِّ رَسُوْلُ اللهِ لاَ يَلْقَى اللهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبُ عَنِ الجَنَّةِ ] رواه مسلم
“ Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan membawa kedua kalimat tersebut tanpa keraguan sedikitpun lalu dihalangi dari surga (HR Muslim)
3-  القبول: Menerima dengan hati dan lisan apa yang menjadi tuntutan kalimat ini. Allah Ta’ala berfirman mengisahkan kaum musyrikin:
}إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ(35) وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ{(36) سورة الصافات
“ Sesungguhnya mereka itu jika dikatakan kepada mereka tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah mereka menyombongkan diri. Mereka mengatakan apakah kita hendak meninggalkan sesembahan kami karena mengikuti seorang penyair gila. (Ash Shoffat: 35-36)
Maksudnya mereka menyombongkan diri untuk mngucapkan kalimat tersebut sebagaimana yang diucapkan orang-orang mukmin. Sebagaimana yang disebutkan Ibnu katsir dalam tafsirnya. Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”
[ أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوا لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، فَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي مَالَهُ وَنَفْسَهُ إِلاَّ بِحَقِّ الإِسْلاَمِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ] متفق عليه
Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan La ilaaha illallah. Barangsiapa mengucapkan Laa ilaaha illallah maka terlindungi harta dan jiwanya dariku kecuali menurut hak Islam dan perhitungannya disisi Allah Azza wa Jalla (Muttafaq Alaihi)
4-      الانقياد والاستسلام Tunduk dan pasrah terhadap tuntutan kalimat tersebut. Allah Ta’ala Berfirman;
}وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لا تُنصَرُونَ{(54) سورة الزمر
“  Kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepada kalian kemudian kalian tidak ditolong (Az Zumar:54)
5-      الصدق المنافي للكذب Jujur yang meniadakan dusta. Yaitu ia mengatakan kalimat tersebut secara jujur dari hatinya. Allah Ta’ala berfirman :
﴿ ألم 0 أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 0 وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ{0 سورة العنكبوت  1-3:
“ Alif Laam Miim. Apakah manusia mengira dibiarkan begitu saja mengatakan kami telah beriman sedang mereka tidak diuji. Sungguh Kami telah  menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesunguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al Ankabut:1-3)
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ مَا مِنْ أََحَدٍ يَشْهَدُ أنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه صِدْقاً مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ ]
“ Tidak ada seorangpun yang bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya secara jujur dari hatinya kecuali Allah haramkan atasnya neraka (Muttafaq Alaihi)
6- الإخلاص Ikhlas. Yaitu memurnikan amal dengan niat yang benar dari segala macam unsur syirik. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ{(5) سورة البينة
“ Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah   dengan memurnikan ketaatan  bagi-Nya dalam (menjalankan) agama dengan  lurus, dan supaya mereka menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian Itulah agama yang lurus (Al Bayyinah:5)
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصاً مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِِ ]رواه البخاري
” Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku kelak adalah orang yang mengucapkan La ilaaha illallah dengan penuh ikhlas dari relung hatinya atau dirinya (HR Bukhari).
Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wasallam:
[ إنَّ اللهََ حَرَّمَ على النارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ] رواه مسم
Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan La illaaha illallah yang dengan kalimat itu semata-mata ia mengharapkan wajah Allah Azza wa Jalla” (HR Muslim)
7-      المحبــة: Mencintai Kalimah Thayibah (Kalimat Tauhid) ini, tuntutan dan konsekuensinya, dan mencintai orang-orang yang mengucapkannya, mengamalkan dan konsisten dengan syarat-syaratnya, serta benci terhadap hal-hal yang membatalkannya. Allah Ta’ala berfirman :
}وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبًّا لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ{  سورة البقرة
“ Diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang dhalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat) bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah sangat berat siksa-Nya( niscaya mereka tidaklah melakukannya) “. Al-Baqarah 165
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
[ ثلاث ٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ المَرْأَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ إِلىَ الكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ كَمَا يكره أن يقذف في النار ] متفق عليه
Tiga hal jika terdapat pada seseorang maka ia akan mendapatkan kelezatan iman, Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selain keduanya, dia mencintai seseorang yang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah dan dia benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan darinya sebagaimana bencinya jika dicampakkan ke dalam neraka” (Muttafaq Alaihi)
8-      الكفر بالطاغوت Mengingkari thaghut yaitu segala sesuatu yang diibadahi selain Allah dan beriman kepada Allah sebagai Rabb dan sesembahan yang hak. Allah Ta’ala berfirman:
}لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىَ لاَ انفِصَامَ لَهَا وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيم{ (256) سورة البقرة
Tidak ada paksaan dalam agama. sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat . Maka barang siapa yang kufur terhadap taghut dan beriman kepada Allah ia telah berpegang teguh dengan buhul tali kuat yang tidak akan putus. Allah Maha mendengar dan Maha mengetahui “.  (Al Baqarah:256)
[ مَنْ قَالَ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ عَلَيْهِ مَالُهُ وَدَمُهُ ]
Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengatakan tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan kufur terhadap segala yang diibadahi selain Allah diharamkan harta dan darahnya” (HR Muslim)


Rabu, 10 Agustus 2011

Siapakah yang pertama memulai Bid’ah hasanah setelah wafatnya Rasul saw?

“Bahwa Sungguh Zeyd bin Tsabit ra berkata : Abubakar ra mengutusku ketika terjadi
pembunuhan besar - besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah), dan bersamanya
Umar bin Khattab ra, berkata Abubakar : “Sungguh Umar (ra) telah datang kepadaku dan melaporkan pembunuhan atas ahlulyamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : “Bagaimana aku berbuat suatu
hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..??, maka Umar berkata padaku bahwa “Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!” berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada gunung - gunung tidak seberat perintahmu padaku untuk mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw??”, maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga ia pun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan  aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits No.4402 dan 6768).
Nah saudaraku, bila kita perhatikan konteks diatas Abubakar Asshiddiq ra mengakui dengan ucapannya : “sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar”. Hatinya jernih menerima hal yang baru (bid’ah hasanah) yaitu mengumpulkan Alqur’an, karena sebelumnya Alqur’an belum dikumpulkan menjadi satu buku, tapi terpisah - pisah di hafalan sahabat, ada yang tertulis di kulit onta, di tembok,dihafal dll. Ini adalah Bid’ah hasanah, justru mereka berdualah yang memulainya.Kita perhatikan hadits yang dijadikan dalil menafikan (menghilangkan) Bid’ah Hasanah mengenai semua bid’ah adalah kesesatan. Diriwayatkan bahwa Rasul saw selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan  menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata :  “Wahai Rasulullah..seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan.., maka beri wasiatlah kami..” maka Rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak Afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf  (perbedaan pendapat),maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat – kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati - hatilah dengan hal - hal yang baru, sungguh semua yang Bid’ah itu adalah kesesatan”. (Mustadrak Alasshahihain hadits No.329).
Jelaslah bahwa Rasul saw menjelaskan pada kita untuk mengikuti sunnah beliau dan sunnah Khulafa’urrasyidin, dan sunnah beliau saw telah memperbolehkan hal yang baru selama itu baik dan tak melanggar syariah. Dan sunnah khulafa’urrasyidin adalah anda lihat sendiri bagaimana Abubakar Asshiddiq ra dan Umar bin Khattab ra menyetujui bahkan menganjurkan, bahkan memerintahkan hal yang baru, yang tidak dilakukan oleh Rasul saw yaitu pembukuan Alqur’an, lalu pula selesai penulisannya dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra, dengan persetujuan dan kehadiran Ali bin Abi Thalib kw dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.
Nah.. sempurnalah sudah keempat makhluk termulia di ummat ini, khulafa’urrasyidin melakukan bid’ah hasanah, Abubakar Asshiddiq ra di masa kekhalifahannya memerintahkan pengumpulan Alqur’an, lalu kemudian Umar bin Khattab ra pula dimasa kekhalifahannya memerintahkan tarawih berjamaah dan seraya berkata : “Inilah sebaik - baik Bid’ah!” (Shahih Bukhari hadits No.1906) lalu pula selesai penulisan Alqur’an dimasa Khalifah Utsman bin Affan ra hingga Alqur’an kini dikenal dengan nama “Mushaf Utsmaniy”, dan Ali bin Abi Thalib kw menghadiri dan menyetujui hal itu dan seluruh sahabat Radhiyallahu’anhum.
Demikian pula hal yang dibuat - buat tanpa perintah Rasul saw adalah 2X adzan di Shalat Jumat, tidak pernah dilakukan di masa Rasul saw, tidak dimasa Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, tidak pula di masa Umar bin khattab ra dan baru dilakukan di masa Utsman bn Affan ra, dan diteruskan hingga kini (Shahih Bukhari hadits No.873). Seluruh madzhab mengikutinya.
Lalu siapakah yang salah dan tertuduh? Siapakah yang lebih mengerti larangan Bid’ah?
Adakah pendapat mengatakan bahwa keempat Khulafa’urrasyidin ini tak faham makna Bid’ah? 
TAMBAHAN DALAM HAL BID’AH HASANAH
Mengenai ucapan Al Hafidh Al Imam Assyaukaniy, beliau tidak melarang hal yang baru, namun harus ada sandaran dalil secara logika atau naqli-nya, maka bila orang yang bicara  hal baru itu punya sandaran logika atau sandaran naqli-nya, maka terimalah, sebagaimana ucapan beliau :
“Hadits – hadits ini merupakan kaidah - kaidah dasar agama karena mencakup hukum - hukum yang tak terbatas, betapa jelas dan terangnya dalil ini dalam menjatuhkan perbuatan para fuqaha dalam pembagian Bid’ah kepada berbagai bagian dan mengkhususkan penolakan pada sebagiannya (penolakan terhadap Bid’ah yang baik) dengan tanpa mengkhususkan (menunjukkan) hujjah dari dalil akal ataupun dalil tulisan (Alqur’an / hadits),
Maka bila kau dengar orang berkata : “ini adalah bid’ah hasanah”, dengan kau pada posisi ingin melarangnya, dengan bertopang pada dalil bahwa keseluruhan Bid’ah adalah sesat dan yang semacamnya sebagaimana sabda Nabi saw “semua Bid’ah adalah sesat” dan (kau) meminta alasan pengkhususan (secara aqli dan naqli) mengenai hal
Bid’ah yang menjadi pertentangan dalam penentuannya (apakah itu bid’ah yang baik atau bid’ah yang sesat) setelah ada kesepakatan bahwa hal itu Bid’ah (hal baru), maka
bila ia membawa dalilnya (tentang Bid’ah hasanah) yang dikenalkannya maka terimalah, bila ia tak bisa membawakan dalilnya (secara logika atau ayat dan hadits) maka sungguh
kau telah menaruh batu dimulutnya dan kau selesai dari perdebatan” (Naylul Awthaar Juz 2 hal 69-70).
Jelaslah bahwa ucapan Imam Assyaukaniy menerima Bid’ah hasanah yang disertai dalil Aqli (Aqliy = logika) atau Naqli (Naqli = dalil Alqur’an atau hadits). Bila orang yang mengucapkan pada sesuatu itu Bid’ah hasanah namun ia TIDAK bisa mengemukakan alasan secara logika (bahwa itu baik dan tidak melanggar syariah), atau tak ada sandaran naqli-nya (sandaran dalil hadits atau ayat yang bisa jadi penguat) maka pernyataan tertolak. Bila ia mampu mengemukakan dalil logikanya, atau dalil Naqli-nya maka terimalah. Jelas - jelas beliau mengakui Bid’ah hasanah.
Berkata Imam Ibn Rajab :
“Seluruh kalimat yang dikhususkan pada Nabi saw ada 2 macam, yang pertama adalah Alqur’an sebagaimana firman-Nya swt : “Sungguh Allah telah memerintahkan kalian
berbuat adil dan kebaikan, dan menyambung hubungan dengan kaum kerabat, dan melarang kepada keburukan dan kemungkaran dan kejahatan” berkata Alhasan bahwa
ayat ini tidak menyisakan satu kebaikan pun kecuali sudah diperintahkan melakukannya,dan tiada suatu keburukan pun kecuali sudah dilarang melakukannya. Maka yang kedua
adalah hadits beliau saw yang tersebar dalam semua riwayat yang teriwayatkan dari beliau saw. (Jaamiul uluum walhikam Imam Ibn Rajab juz 2 hal 4), dan kalimat ini dijelaskan
dan dicantumkan pula pada Tuhfatul ahwadziy).
Jelas sudah segala hal yang baik apakah sudah ada dimasa Rasul saw ataupun belum, sudah diperintahkan dan dibolehkan oleh Allah swt, apakah itu berupa penjilidan Alqur’an, ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu mustalahul hadits, maulid, Alqur’an digital, dlsb. Dan semua hal buruk walau belum ada dimasa Nabi saw sudah dilarang Allah swt, seperti narkotika, ganja,dlsb.
(Kenalilah akidahmu 2 - Habib Munzir al musawa)

Senin, 01 Agustus 2011

Keutamaan bershalawat

Published on May 9, 2011 in Artikel Islam.
Untuk mengetahui keutamaan apakah yang akan diperoleh orang-orang yang bershalawat kita perhatikan beberapa hadits di bawah ini :
a. Barangsiapa bershalawat untukku sekali, maka Allah bershalawat untuknya sepuluh kali.” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah)
b. “Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan di muka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampaikan kepadaku akan segala salam 
yang diucapkan oleh ummatku.” (H.R. Ahmad, An Nasaiy dan Ad Darimy Syarah Al Hishn)
c. “Barangsiapa bershalawat untukku di pagi hari sepuluh kali dan di petang hari sepuluh kali, ia akan 
mendapatkan syafa’atku pada hari qiamat.” (H.R. At Thabrany Al Jami’)
d. “Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari qiamat, ialah manusia yang paling banyak 
bershalawat kepadaku.” (H.R. At. Thurmudzy)
Apabila kita kumpulkan beberapa hadits yang menerangkan faedah-faedah shalawat dan kita perhatikan satu persatu, tersimpullah bahwa faedah bershalawat itu diantaranya :
  1. Satu kali shalawat, Allah akan membalas dengan 10 kali shalawat untuknya.
  2. Satu kali shalawat, Allah akan mengangkatnya dengan 10 derajat.
  3. Malaikat juga akan turut membaca shalawat ke atas orang yang membaca shalawat untuk Rasulullah SAW.
  4. Doa yang disertai dengan shalawat akan diperkenankan oleh Allah SWT tetapi doa yang tidak disertai dengan shalawat ianya akan tergantung di antara langit dan bumi.
  5. Akan mendapat tempat yang dekat dengan Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
  6. Akan mendapat syafa’at dari Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
  7. Allah akan memberikan karunia dan rahmat-Nya yang berlimpah-limpah kepada mereka yang bershalawat untuk Nabi SAW.
  8. Dapat membersihkan hati, jiwa dan ruh kotor yang berselaput di dalam dada.
  9. Dapat membuktikan kecintaan dan kasih sayang kita terhadap Rasulullah.
  10. Mewariskan kecintaan Rasulullah terhadap umatnya.
  11. Akan terselamat dan terpelihara dari segala apa yang mendukacitakan dari hal keduniaan maupun akhirat.
  12. Dengan membawa shalawat akan dapat mengingatkan kembali apa-apa yang telah kita lupa.
  13. Akan mendapat nur yang bersinar-sinar di hati bila kita bershalawat 100 kali dengan bersungguh-sungguh.
  14. Mendapat ganjaran pahala seperti memerdekakan seorang hamba bila kita bershalawat sebanyak 10 kali.
  15. Allah akan meluaskan dan melapangkan rezekinya dari sumber-sumber yang tidak diketahui.
  16. Allah akan memberatkan timbangan di hari qiamat nanti.
  17. Mendapat keberkatan dari Allah bagi dirinya dan juga untuk keluarganya.
  18. Mendapat kasih sayang dari hati-hati orang mu’min terhadapnya.
  19. Akan mendapatkan dirinya berada di Telaga Haudh (Telaga Rasulullah SAW) serta dapat pula meminumnya di hari qiamat nanti.
  20. Dapat melepaskan diri seseorang itu dari tergelincir semasa melalui sirat dan ia dengan selamat menuju ke surga.
Imam Al-Ghazali di dalam kitab Ihya’-nya menga-takan: “Sesungguhnya berlipatgandanya pahala shalawat atas Nabi SAW itu adalah karena shalawat itu bukan hanya mengandung satu kebaikan saja, melainkan mengandung banyak kebaikan, sebab di dalamnya tercakup :

a. Pembaharuan iman kepada Allah.

b. Pembaharuan iman kepada Rasul.

c. Pengagungan terhadap Rasul.

d. Dengan inayah Allah, memohon kemuliaan baginya.

e. Pembaharuan iman kepada Hari Akhir dan berbagai kemuliaan.

f. Dzikrullah.

g. Menyebut orang-orang yang saleh.

h. Menampakkah kasih sayang kepada mereka.

i. Bersungguh-sungguh dan tadharru’ dalam berdoa.

j. Pengakuan bahwa seluruh urusan itu berada dalam kekuasaan Allah.

5. Sebab-Sebab yang menjadikan pahala Shalawat berlipat ganda

Inilah sepuluh kebaikan selain dari kebaikan yang disebutkan dalam syariat, bahwa setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh ganjaran, sedang satu kejahatan hanya dibalas dengan satu balasan saja.”

Diantara karunia Allah yang diberikan-Nya kepada Nabi-Nya itu adalah menggabungkan dzikir kepada-Nya, dengan dzikir kepada Nabi-Nya di dalam dua kalimat syahadat. Dan menjadikan ketaatan kepada Nabi sebagai ketaatan kepada-Nya, kecintaan kepada Nabi sebagai kecintaan kepada-Nya, juga mengaitkan pahala shalawat atas Nabi dengan pahala zikrullah Ta’ala, seperti firman Allah :

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…..“ (Q.S. Al-Baqarah: 152)

Dan di dalam salah satu hadits qudsi disebutkan : “Jika hamba-Ku menyebut-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun akan menyebutnya di dalam diri-Ku, dan jika ia menyebut-Ku di khalayak ramai, maka Aku pun akan menyebutnya di khalayak yang lebih baik dari khlayaknya.”

Begitu juga yang dilakukan Allah dalam hak Nabi kita SAW, yaitu membalas satu shalawat seorang hamba dengan sepuluh shalawat, dan satu salam dengan sepuluh salam.

Keutamaan Shalawat
Untuk mengetahui keutamaan apakah yang akan diperoleh orang-orang yang bershalawat kita perhatikan beberapa hadits di bawah ini :

a. Barangsiapa bershalawat untukku sekali, maka Allah bershalawat untuknya sepuluh kali.” (H.R. Muslim   dari Abu Hurairah)
b. “Bahwasanya bagi Allah Tuhan semesta alam ada beberapa malaikat yang diperintah berjalan di muka bumi untuk memperhatikan keadaan hamba-Nya. Mereka menyampaikan kepadaku akan segala salam yang diucapkan oleh ummatku.” (H.R. Ahmad, An Nasaiy dan Ad Darimy Syarah Al Hishn)
c. “Barangsiapa bershalawat untukku di pagi hari sepuluh kali dan di petang hari sepuluh kali, ia akan mendapatkan syafa’atku pada hari qiamat.” (H.R. At Thabrany Al Jami’)
d. “Manusia yang paling utama terhadap diriku pada hari qiamat, ialah manusia yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (H.R. At. Thurmudzy)

Apabila kita kumpulkan beberapa hadits yang menerangkan faedah-faedah shalawat dan kita perhatikan satu persatu, tersimpullah bahwa faedah bershalawat itu diantaranya :
Satu kali shalawat, Allah akan membalas dengan 10 kali shalawat untuknya.
Satu kali shalawat, Allah akan mengangkatnya dengan 10 derajat.
Malaikat juga akan turut membaca shalawat ke atas orang yang membaca shalawat untuk Rasulullah SAW.
Doa yang disertai dengan shalawat akan diperkenankan oleh Allah SWT tetapi doa yang tidak disertai dengan shalawat ianya akan tergantung di antara langit dan bumi.
Akan mendapat tempat yang dekat dengan Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
Akan mendapat syafa’at dari Rasulullah SAW di hari qiamat nanti.
Allah akan memberikan karunia dan rahmat-Nya yang berlimpah-limpah kepada mereka yang bershalawat untuk Nabi SAW.
Dapat membersihkan hati, jiwa dan ruh kotor yang berselaput di dalam dada.
Dapat membuktikan kecintaan dan kasih sayang kita terhadap Rasulullah.
Mewariskan kecintaan Rasulullah terhadap umatnya.
Akan terselamat dan terpelihara dari segala apa yang mendukacitakan dari hal keduniaan maupun akhirat.
Dengan membawa shalawat akan dapat mengingatkan kembali apa-apa yang telah kita lupa.
Akan mendapat nur yang bersinar-sinar di hati bila kita bershalawat 100 kali dengan bersungguh-sungguh.
Mendapat ganjaran pahala seperti memerdekakan seorang hamba bila kita bershalawat sebanyak 10 kali.
Allah akan meluaskan dan melapangkan rezekinya dari sumber-sumber yang tidak diketahui.
Allah akan memberatkan timbangan di hari qiamat nanti.
Mendapat keberkatan dari Allah bagi dirinya dan juga untuk keluarganya.
Mendapat kasih sayang dari hati-hati orang mu’min terhadapnya.
Akan mendapatkan dirinya berada di Telaga Haudh (Telaga Rasulullah SAW) serta dapat pula meminumnya di hari qiamat nanti.
Dapat melepaskan diri seseorang itu dari tergelincir semasa melalui sirat dan ia dengan selamat menuju ke surga.

Waktu-Waktu yang baik untuk Bershalawat

Shalawat atas Nabi SAW itu disunnahkan untuk dibaca pada waktu-waktu yang telah dikemukakan oleh hadits-hadits, seperti :

1) Sesudah menjawab adzan.

2) Pada permulaan membaca doa, pertengahannya dan penutupnya.

3) Pada akhir pembacaan doa qunut.

4) Pada pertengahan takbir ‘ied.

5) Ketika masuk dan keluar masjid.

6) Ketika bertemu dan berpisah.

7) Ketika berlayar dan datang dari pelayaran.

8) Ketika bangun untuk melakukan shalat malam.

9) Ketika selesai mengerjakan shalat.

10) Ketika selesai membaca Al-Qur’an.

11) Ketika mengalami kecemasan dan kesedihan.

12) Ketika membaca hadits, menyampaikan ilmu dan zikir.

13) Dan ketika lupa akan sesuatu

14) Ketika mencium hajar aswad di dalam thawaf.

15) Ketika membaca talbiyah.

16) Ketika telinga berdengung.

17) Sehabis wudhu.

18) Dan ketika menyembelih dan bersin.

Namun ada pula hadits yang melarang membacanya di dua waktu terakhir ini.

Selain itu, waktu-waktu yang khusus untuk dibacakan shalawat padanya berdasarkan nash adalah hari Jum’at dan malam Jum’at, sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Perbanyaklah membaca shalawat pada malam Jum’at dan siang Jum’at, sebab pada ketika itu shalawat kamu diperlihatkan kepadaku.” (H.R. Al-Thabrany dari Abu Hurairah ra.)

Dan diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz ra, bahwa ia menulis : “Sebarkanlah ilmu pada hari Jum’at, sebab bencana ilmu itu adalah lupa. Dan perbanyaklah oleh kalian membaca shalawat atas Nabi SAW pada hari Jum’at.”

Dan Imam Syafi’i ra berkata : “Aku suka membanyakkan membaca shalawat dalam setiap keadaan, pada malam dan siang Jum’at lebih aku sukai, karena ia merupakan hari yang paling baik.”

Memilih Puasa untuk menuju Taqwa

http://www.oasetarbiyah.com

RamadhanBuah berpuasa seperti diharapkan Allah SWT adalah menjadikan kita bertaqwa. Buah inilah yang menjadi sasaran selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Taqwa itu dapat dirasakan oleh diri sendiri dengan sebagian indikatornya terlihat mata manusia. Namun perasaan ketaqwaan inilah yang mengetahui mutlak hanyalah Allah SWT. Yang mulia di sisiNya pun adalah mereka yang bertaqwa, demikian firman Allah SWT.
Puasa merupakan salah satu jalan yang menuju kepada ketaqawaan, menuju maqam yang mulia disisi-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Al Baqarah:183)
Lalu bagaimana berpuasa yang benar-benar melahirkan ketaqwaan di ujung Ramadhan?
Sebelum memahami bagaimana puasa dapat melahirkan taqwa perlu menelusuri kembali makna puasa. Shiyam di bulan Ramadhan seperti banyak dijelaskan para ulama adalah menahan dari makan, minum dan hubungan suami isteri pada siang hari. Jadi dapat dikatakan praktek utama shiyam ini adalah siang hari. Tidak makan dan tidak minum merupakan salah satu indikator berpuasa pada siang hari.
Secara istilah, shiyam adalah menahan dari dari dua jalan syahwat, mulut dan kemaluan, dan hal-hal lain yang dapat membatalkan pahala puasa mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari.
Saat berpuasa inilah kebutuhan fisik utama yakni makan dan minum ditahan selama siang hari. Dengan menahan diri tidak mengkonsumsi apapun siang hari maka terasa sekali bahwa badan akan lebih lemas dari biasanya pada siang hari.
Hikmah yang dirasakan dari berpuasa ini adalah satu kesadaran bahwa ketergantungan kepada makanan dan minuman bukanlah segala-galanya. Kebutuhan untuk memberikan makan dan minum kepada jasad ini dihentikan tidak lain adalah untuk memberi kesadaran akan aspek ruhiah dalam diri kita.
Coba kita rasakan sendiri aspek ruhiah yang selama ini ada dalam diri ketika terbangun. Yang diambil oleh Allah SWT ketita kita tertidur.
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir. (Az Zumar:42)
Allah menyinggung pula tentang penciptaan manusia dimana didalamnya ditiupkan ruh.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Al Hijr:28-29)
Hikmah dari puasa dimana lapar dan dahaga ini serta menahan syahwat akan mengangkat kita kedalam mahluk yang paripurna tidak hanya jasadiyah tetapi juga ruhiah.
Hidup ini tidak hanya makan dan minum tetapi ada yang lebih sejati yang mengantarkan kepada ketaqwaan yakni dengan melepaskan diri dari kergantungan kepada hal-hal yang fisik, duniawi.
Kesadaran inilah yang kemudian menjadikan diri kita mengabdi semata-mata kepada Allah SWT karena jasad kita akan ditinggalkan, ruh kita lah yang akan kembali kepada-Nya.
Selama siang hari berpuasa disertai berbagai amalah sunat seperti tadarus Al Quran, menunaikan shalat sunnat dan sedekah akan melengkapi bangkitnya kesadaran seorang yang beriman dan bertaqwa.
Itulah mengapa Allah akan menganugerahkan ketaqwaan manakala sudah memiliki kesadaran melihat kehidupan di dunia ini merupakan tangga dan perjalanan menuju sebuah kehidupan kekal di akhirat.
Sesungguhnya kita dari Allah dan akan kembali kepadanya.
“Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (Al Baqarah:156)
Nah kalau puasa Ramadhan ini dikembalikan dan disadari sepenuhnya maka lapar, dahaga dan menahan shaywat ini menjadi sangat kecil. Mungkin juga menjadi ringan karena kita sedang mengejar derajat tinggi menuju ketaqwaan.
Akan muncul pula kebahagiaan yang tiada taranya ketika duduk atau beraktivitas dalam puasa ini disertai keimanan karena semuanya bagi Allah SWT.
Apalagi pada malam harinya dilengkapi berbagai ibadah yang melengkapkan kesadaran untuk menuju iman dan taqwa yang lebih tinggi. Sungguh berbahagia mereka yang berpuasa pada bulan Ramadhan, dan sungguh berbahagia yang mengisi amalan malam Ramadhan dengan berbagai ibadah. Wallahu’alam bishshaab.